10 February 2006

RETORIKA YANG TERULANG

Sudah berlalu berapa lama?...apa yang dirasakan, cemburu, marah, rindu, sayang juga kecewa mungkin adalah teman yang akan akrab dengan kita saat punya relationship dengan seseorang. Bukan hal yang aneh ketika satu dan lainnya merasa cukup dewasa untuk menentukan pilihan..akan mengambil jalan tengah atau justru ingin memperjuangkan yang sudah dikorbankan selama ini…kalau begitu itu pamrih namanya?...pada dasarnya mungkin tidak ada seseorang yang melakukan sesuatu tanpa pamrih.


Tapi apa yang akan kamu lakukan? Waktu ternyata menyadari bahwa sebagai seseorang kamu cukup bisa terdiam dan menyerahkan segala sesuatunya pada kehendak yang lebih berkuasa. Bahkan walau bagi kita sendiri sepertinya sudah merasa cukup untuk melalui itu semua….sakit dan kecewa itu mungkin jadi hal yang wajar…beginilah yang harus dilalui…apa namanya “berserah diri?”…terlihat seperti pengecut atau lebih seperti lemah?..bukan, itu bukan pembelaan dari apapun…hanya sebuah penyangkalan buat perasaan yang cukup terdera dengan terpaan hujan es yang lebat…sakit dan perih ! tapi masih ingin tetap menunjukan yang aku lakukan sepertinya sudah benar, dan aku ingin bertahan.


Suatu saat mungkin dalam perjalanan ini, kita harus memutuskan sesuatu yang benar-benar bukan keinginan kita, meski kita sama sama tahu apa sebenarnya yang kita inginkan. Apa ini sudah sampai pada kondisi bahwa cukup adalah cukup ?


Pada akhirnya kadang-kadang dalam hal ini , benar-benar merasa tidak punya kemampuan apapun…kecuali jika memang kekuatan itu muncul dari yang aku harapkan...tapi rasanya tidak mungkin terjadi…tentu itu sebuah retorika yang kembali terulang…


Mulailah menapaki semuanya, … mungkin akan ada saatnya untuk menghilang…dengan atau tanpa jejak…terakhir menjadi sebuah ketidakwarasan dalam melihat realita yang ada…hanya sebuah anggapan maya dan abu-abu.

No comments: